Konstruksi Adalah Salah Satu Sektor Industri yang Sangat Berbahaya

Jatuh, kerusakan mekanis, atau masalah dengan paparan cahaya berlebihan, bahkan pekerja konstruksi dapat menghadapi cedera serius lainya saat bekerja. Wajar jika terdapat pernyataan jika konstruksi adalah salah satu sektor industri yang paling berbahaya.

contractor safety management system

Tentu dalam kasus tersebut, terdapat sistem manajemen keselamatan yang baik (atau dikenal sebagai Safety Management System/SMS) yang dapat membantu mencegah kecelakaan dan bahaya pekerjaan.

Dahulu kala, ketika manajer konstruksi masih menggunakan kertas notes dan mistar geser, dan sebelum perangkat lunak manajemen konstruksi memulai debutnya di industri, sistem manajemen keselamatan awal sudah digunakan. Berdasarkan peraturan keselamatan waktu itu, dimana “one size fits all” yang berarti satu ukuran cocok untuk semua hal. Dan dalam pemeriksa pemerintah memeriksa bahwa perusahaan konstruksi beroperasi sesuai dengan undang-undang.

Bagi perusahaan konstruksi ada 3 alasan yang harus dimiliki untuk implementasi sistem manajemen keselamatan yang efektif:

  1. Kewajiban moral: tidak ada perusahaan yang menempatkan karyawannya, atau orang yang terkait dengan pekerjaan dalam bahaya atau risiko.
  2. Peraturan: sebagian besar negara bagian dan negara-negara lainnya, menjadikannya tanggung jawab hukum bagi perusahaan untuk mempromosikan dan memelihara kondisi kerja yang aman.
  3. Efektivitas biaya: waktu, tenaga, dan uang yang dihabiskan untuk mencegah kecelakaan lebih sedikit daripada biaya berurusan dengan kecelakaan sesudahnya.

Nah, apa sih yang harus dilakukan bagi perusahaan untuk menjalankan Sistem Manajemen Keselamatan dalam bidang Konstruksi agar lebih baik?

Salah satunya adalah dengan menerapkan CSMS/Contractor Safety Management System

Pada dasarnya, sistem manajemen keselamatan untuk konstruksi atau CSMS/Contractor Safety Management System adalah cara sistematis untuk mengidentifikasi bahaya dan mengelola risiko yang berkaitan dengan tempat kerja konstruksi.

CSMS harus mencakup kebijakan, prosedur, sistem, penyebaran organisasi perusahaan konstruksi, dan akuntabilitas perusahaan konstruksi untuk memastikan bahwa tindakan pencegahan yang diperlukan telah diambil dan dipelihara untuk keselamatan semua pihak yang terkait. Lebih dari ini, CSMS harus tertanam dalam budaya perusahaan, sehingga diterapkan oleh semua.

CSMS yang berkinerja baik biasanya akan meliputi:

  1. Identifikasi semua bahaya keselamatan yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan dan penilaian risiko yang terkait dengan masing-masing bahaya.
  2. Prosedur manajemen risiko untuk menjaga risiko dari bahaya ke tingkat yang dapat diterima (yang dalam beberapa kasus mungkin berarti tingkat nol).
  3. Pemantauan berkelanjutan dengan evaluasi kinerja keselamatan secara berkala.
  4. Peningkatan berkelanjutan dari efektivitas sistem manajemen keselamatan.

Item-item ini sering dikelola dalam siklus “Plan-Do-Check-Act” dalam siklus dari continual improvement. “Plan-Do-Check-Act” atau biasa disingkat PDCA.

Plan: dari penilaian bahaya dan risiko, kebijakan dan prosedur keselamatan didefinisikan dan sumber daya yang dialokasikan untuk melaksanakannya.

Do: Kebijakan dan prosedur diterapkan.

Check: Kinerja keselamatan diukur, untuk memeriksa relevansi, kelengkapan, keefektifan, dan efisiensi implementasi.

Act: Setiap tindakan perbaikan atau perbaikan yang tepat didefinisikan, mengarah kembali ke langkah perencanaan (1) di atas, untuk memulai kembali siklus.

CSMS/Contractor Safety Management System implementasinya harus didokumentasikan dan diaudit, artinya inspektur keselamatan dapat memeriksanya.

Sumber: Burger, Rachel. The-top-3-safety-management-systems-for-construction. https://blog.capterra.com. Diakses pada tanggal 29 Mei 2020

Author: Yanuar