Ini Tantangan Cari Minyak dan Gas di Blok Mahakam

Bagikan:

blok-mahakam-dikuasai-asing-selama-50-tahun-8uatGJwG4GJakarta – Mulai Desember 2017 nanti, kontrak Total E&P Indonesie sebagai operator di Blok Mahakam, Kalimantan Timur selesai. Operator akan dialihkan ke PT Pertamina (Persero).

Blok Mahakam adalah ladang gas bumi terbesar di Indonesia. Produksi gas dari Mahakam pada 2015 lalu mencapai 1,68 miliar kaki kubik per hari dan kondensat 68 ribu barel per hari (bph), atau hampir sepertiga dari total produksi gas nasional.

Meski begitu, tak mudah mendapatkan gas bumi dari Blok Mahakam. Blok ini berada di lepas pantai dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Sumur-sumurnya juga sudah tua, karena Blok Mahakam sudah beroperasi sejak 1967 atau 49 tahun lalu.

Di tengah harga minyak yang sedang rendah seperti saat ini, keunggulan operasional amat penting dalam pengelolaan Blok Mahakam. Sebab, cadangan minyak dan gas di sumur-sumur Blok Mahakam semakin menurun, operasinya juga makin rumit dan kompleks.

“Keunggulan operasional merupakan salah satu kunci untuk bertahan dan menjaga kelangsungan usaha. Menurunkan biaya dan beroperasi dengan lebih efisien merupakan keharusan,” kata Vice President HR Communications General Services Total E&P Indonesie, Arividya Noviyanto, saat diskusi di Gedung WTC Sudirman, Jakarta, Senin (25/4/2016).

Blok Mahakam memiliki ribuan reservoir yang tipis (1-10 meter). Tekanan formasinya juga sangat beragam. Perlu penggunaan seismik untuk menentukan target pengeboran. “Rancangan sumur yang lebih tepat guna diperlukan untuk mengefisienkan biaya pengeboran dan merupakan salah satu kunci dalam harga minyak yang rendah,” paparnya.

Untuk memastikan sumur-sumur berproduksi secara optimal, perlu dilakukan pemantauan secara terus menerus, terhadap parameter-parameter sumur seperti tekanan dan suhu fluida, debit aliran fluida, dan kemungkinan adanya produksi air dan pasir.

Sumur-sumur yang sudah berproduksi lama cenderung menurun tekanannya dan akan mulai memproduksi air sebagai hasil ikutan. Perlu penanganan khusus untuk menutup sumber produksi air, misalnya dengan pengurasan air dari lubang sumur atau menutup lokasi sumber produksi air dengan cara kimiawi maupun mekanis.

Selain itu, sekitar 25% dari reservoir di Mahakam berupa pasir lepas. Harus dilakukan konsolidasi dengan polimer (kimiawi) atau dilakukan pemasangan pengontrol pasir (mekanis) untuk memproduksi minyak dan gas dari reservoir seperti ini.

“Tantangan utamanya adalah biayanya yang relatif mahal. Secara terus menerus dilakukan uji coba beberapa alternatif untuk menemukan metode yang lebih efisien,” pungkasnya.

 

 

Sumber: http://finance.detik.com/

Tag:

Bagikan:

Request Presentation

Agenda Terdekat Productivity Quality

Download Jadwal Training 2021

Proxsis TV

Menu
Open chat
Butuh Bantuan?