Krisis Melahirkan Inovasi dan Daya Juang

Inovasi x Krisis
Kunci selamat (Turn Around) bagi perusahaan saat menghadapi KRISIS adalah “INOVASI“. Tetapi bagaimana cara melakukan Inovasi apalagi di saat krisisi ini? Ada banyak cara melakukan inovasi, tapi di masa krisis ada 3 hal yang dilakukan oleh Proxsis dan ini sesuai dengan pesan yang disampaikan para pakar di Wharton:

 

  1. Fokus pada Talent

Di Proxsis kita tidak recruit talent baru, namun fokus pada talent internal. Apa yang dilakukan pada Talent Internal?

  • Perkuat Value-nya,
  • Penuhi dengan Kompetensi yang dibutuhkan di masa krisis. Berikan program-program belajar beserta fasilitas penunjang untuk bisa belajar lebih cepat. Di masa krisis, Proxsis punya target belajr 4x lebih cepat dengan berbagai jenis program (SDP, BPS, ILDL, Forum Inovasi, Morning Briefing, dst).

Bagi yang tidak bisa belajar cepat dan value (budaya inti perusahaan)-nya tidak tumbuh-tumbuh juga, baru terpaksa dicarikan gantinya.

Di masa krisis, perlu cepat dalam pengembangan kompetensi talent tadi, kalau tidak maka perusahaan atau organisasi akan keduluan “masuk angin” oleh pesimisme dan isu-isu negative.

Ada 2 (dua) team yang butuh percepatan kompetensi:

  1. Team Program.

Di Proxsis, team terkait program dipecah menjadi tiga: Team Digital Rangers, Team Customer Engagement dan team Project/Operation.

  1. Team Product Development.

Bisa dibuatkan dalam bentuk task force dibawah pimpinan para specialist. Bisa saja ada task force yang dipimpin 3 leader berbeda sesuai fokus development. Selama krisis, taskforce produk development benar-benar fokus tanpa henti memikirkan solusi terkait permsalahan customer. Hampir lebih dari 300 produk baru direncanakan dalam 2 bulan awal krisis. Semua produk ditinjau status-nya. Apakah masih ide, atau sudah dites, sudah dipromosikan, atau malah sudah menyumbang revenue. Perlu diingat, inovasi itu bukan hanya produk. Inovasi produk membutuhkan 4 inovasi tambahan:

  • Service Innovation (Inovasi layanan)
  • Process Innovation (Inovasi proses)
  • Marketing Innovation (Inovasi pemasaran)
  • Technology Innovation (Inovasi teknologi sebagai nilai tambah)

 

  1. Melakuan Pendekatan: Outside-in

Saat krisis, fokus pada permasalahaan customer. Di Proxsis kita wajib berempati pada customer. Dengarkan permasalahan mereka, lalu carikan solusinya. Team customer engagement akan menanyakan secara rutin. Dan tentu Team digital marketing juga perlu diterjunkan. Team digital marketing akan “mendengarkan customer” melalui digital survey dan data analysis.

  1. Dorong team untuk berani ambil Risiko dalam implementasi hal baru.

Ini membutuhkan sikap entrepreneurship/ intrapreneruship. Tumbuhkan di dalam team-team kecil di organisasi/ perusahaan. Kelola seperti unit usaha sendiri.

Rudi Maulana, CPP

Founder at Proxsis

www.proxsis.com

 

Artikel terkait:

https://knowledge.wharton.upenn.edu/article/role-talent-driving-growth/