Sejarah Statistical Process Control

Tahun 1900-an, industri AS umumnya memiliki karakteristik dengan banyaknya toko kecil yang menghasilkan produk-produk sederhana, seperti film atau perabotan. Toko-toko kecil ini biasanya seorang pekerja adalah seorang tukangyang bertanggung jawab secara penuh terhadap mutu kerjanya. Para pekerja dapat menjamin mutu kerjanya terhadap bahan, keahlian dalam pembuatan, serta penyesuaian dan pencocokan yang selektif. Awal tahun 1900-an, pabrik-pabrik mulai bermunculan dimana orang-orang dengan pelatihan yang terbatas dibentuk ke dalam lini-lini perakitan yang besar. Produk-produk menjadi semakin rumit. Pekerja individu tidak lagi memiliki kendali penuh terhadap mutu produk. Suatu staf semi-profesional, yang biasanya dinamakan departemen pemeriksaan, bertanggung jawab terhadap mutu dari produk. Tanggung jawab dari mutu produk tersebut biasanya dipenuhi oleh 100% inspeksi dari seluruh karakteristik yang penting. Terdapat perbedaan yang terdeteksi, maka masalah ini akan ditangani oleh supervisor departemen perusahaan. Intinya, kualitas dicapai dari pemeriksaan mutu produk (Marchal, 2007).

Tahun 1920-an, Dr. Walter A. Shewhart dari Nell Telephone Laboratories, mengembangkan konsep-konsep pengendalian mutu secara statistik (statistical quality control) dan memperkenalkan konsep pengendalian mutu dari sebuah produk yang sedang diproduksi, berbeda dengan pemeriksaan mutu produk setelah produk tersebut diproduksi. Upaya mencapai tujuan dari pengendalian mutu, Shewhart mengembangkan teknik pembuatan diagram untuk mengendalikan pelaksanaan prosesproduksi perusahaan. Shewart juga memperkenalkan konsep dari inspeksi sampel statistik untuk mengukur kualitas produk yang sedang diproduksi. Konsep ini menggantikan metode lama dari pemeriksaan setiap bagian produksi setelah produk diselesaikan di dalam pelaksanaan produksi (Marchal, 2007).

Metode SPC menjadi benar-benar mandiri selama Perang Dunia II. Kebutuhan akan ribuan produk yang berhubungan dengan perang seperti detektor bom, radar yang akurat dan peralatan elektronik lainnya, dengan biaya serendah mungkin mempercepat penggunaan dari sampling statistik dan diagram-diagram kontrol mutu. PD II, teknik statistik ini telah dikembangkan dan dipertajam. Penggunaan komputer juga telah memperluas kegunaan teknik-teknik tersebut. Perang Dunia II hampir secara total menghasutkan kapasitas produksi Jepang. Alih-alih memperlengkapi metode-metode produksi mereka yang lama, orang Jepang lebih memilih untuk mengumpulkan bantuan dari alm. Dr. W. Edwards Deming, dari Departemen Pertanian AS untuk membantu mereka mengembangkan suatu rencana keseluruhan. Beberapa seminar dengan perencana Jepang, Deming menekankan sebuah filosofi yang saat ini dikenal sebagai 14 Prinsip Deming. Deming menekankan bahwa mutu berasal dari perbaikan proses, bukan dari pemeriksaan dan mutu tersebut ditentukan oleh pelanggan yang menggunakan (Marchal, 2007).

Definisi Statistical Process Control (SPC)

Pengendalian kualitas statistik merupakan teknik penyelesaian masalah yang digunakan untuk memonitor, mengendalikan, menganalisis, mengelola, dan memperbaiki produk dan proses menggunakan metode-metode statistik. Pengendalian kualitas statistik (statistical quality control) sering disebut sebagai pengendalian proses statistik (statistical process control). Pengendalian kualitas statistik dan pengendalian proses statistik memang merupakan dua istilah yang saling dipertukarkan, yang apabila dilakukan bersama-sama maka pemakai akan melihat gambaran kinerja proses masa kini dan masa mendatang. Hal ini disebabkan pengendalian proses statistik dikenal sebagai alat yang bersifat online untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam proses saat ini. Pengendalian kualitas statistik menyediakan alat-alat offline untuk mendukung analisis dan pembuatan keputusan yang membantu apakah proses dalam keadaaan stabil dan dapat diprediksi setiap tahapannya, hari demi hari, dan dari pemasok ke pemasok (Cawley dan Harold, 1999).

Pengendalian kualitas statistik mempunyai cakupan yang lebih luas karena di dalamnya terdapat pengendalian proses statistik, pengendalian produk (acceptance sampling), dan analisis kemampuan proses. Konsep terpenting dalam pengendalian kualitas statistik adalah variabilitas, dimana semua prosedur pengendalian kualitas statistik membuat keputusan berdasar sampel yang diambil dari populasi yang lebih besar. Variabilitas yang dimaksud adalah variabilitas antar sampel (misalnya range atau standar deviasi). Sampel diambil apabila sampel dari populasi yang sama, variasi statistik akan terjadi dari sampel ke sampel dan variasi range dapat dihitung. Bentuk ini merupakan dasar dari batas yang dihitung pada peta pengendali (control chart) dan banyaknya penerimaan yang digunakan pada acceptance sampling. Penyimpangan atau variabilitas tidak dikenal, maka dilakukan pencarian dengan penyesuaian proses dan klasifikasi bahan baku yang datang (Maleyeff, 1994).

Pengendalian kualitas proses statistik (statistical process control) merupakan teknik penyelesaian masalah yang digunakan sebagai pemonitor, pengendali, penganalisis, pengelola, dan memperbaiki proses menggunakan metode-metode statistik. Filosofi pada konsep pengendalian kualitas proses statistik atau lebih dikenal dengan pengendalian proses statistik (statistical process control) adalah output pada proses atau pelayanan dapat dikemukakan ke dalam pengendalian statistik melalui alat-alat manajemen dan tindakan perancangan (Ariani, 2004).

Pengendalian proses statistik merupakan penerapan metode-metode statistik untuk pengukuran dan analisis variasi proses. Menggunakan pengendalian proses statistik ini maka dapat dilakukan analisis dan minimasi penyimpangan atau kesalahan, mengkuantifikasikan kemampuan proses, menggunakan pendekatan statistik dengan dasar six-sigma, dan membuat hubungan antara konsep dan teknik yang ada untuk mengadakan perbaikan proses. Tujuan utama dalam pengendalian proses statistik adalah mendeteksi adanya khusus (assignable cause atau special cause) dalam variasi atau kesalahan proses melalui analisis data dari masa lalu maupun masa mendatang. Variasi proses sendiri terdiri dari dua macam penyebab, yaitu penyebab umum (random cause atau chance cause atau common cause) yang sudah melekat pada proses, dan penyebab khusus (assignable cause atau special cause) yang merupakan kesalahan yang berlebihan. Idealnya, hanya penyebab umum yang ditunjukkan atau yang tampak dalam proses, karena hal tersebut menunjukkan bahwa proses berada dalam kondisi stabil dan dapat diprediksi. Kondisi ini menunjukkan variasi minimum (Ariani, 2004).

Proses pengurangan proses apabila dilakukan akan menghasilkan beberapa keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut adalah sebagai berikut (Gryna, 2001):

  1. Variabilitas menjadi lebih kecil yang dihasilkan dari adanya perbaikan kinerja yang dapat dilihat oleh pelanggan.
  2. Mengurangi variabilitas pada karakteristik komponen yang merupakan cara untuk mengimbangi variabilitas yang tinggi pada komponen lain untuk memenuhi persyaratan kinerja pada sistem atau perakitan, untuk dapat memenuhi persyaratan tersebut memang diperlukan adanya pengendalian secara ketat pada setiap komponen.
  3. Beberapa karakteristik seperti berat, pengurangan variabilitas juga akan memberikan manfaat pada perubahan rata-rata proses yang dapat menyebabkanpengurangan biaya.
  4. Berkurangnya variabilitas akan mengurangi banyaknya inspeksi dan besarnya biaya inspeksi. Hal ini akan mendorong ditekannya harga produk tersebut.
  5. Berkurangnya variabilitas merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan kemampuan bersaing suatu produk dan memperbesar pangsa pasar.

Pengendalian proses statistik memang memiliki berbagai manfaat bagi organisasi yang menerapkannya. Terdapat beberapa manfaat tersebut, antara lain (Antony, 2000):

  1. Tersedianya informasi bagi karyawan apabila akan memperbaiki proses.
  2. Membantu karyawan memisahkan sebab umum dan sebab khusus terjadinya kesalahan.
  3. Tersedianya bahasa yang umum dalam proses untuk berbagai pihak.
  4. Menghilangkan penyimpangan karena sebab khusus untuk mencapai konsistensi dan kinerja yang lebih baik.
  5. Pengertian yang lebih baik mengenai proses.
  6. Pengurangan waktu yang berarti dalam penyelesaian masalah kualitas.
  7. Pengurangan biaya pembuangan produk cacat, pengerjaan ulang terhadap produk cacat, inspeksi ulang, dan sebagainya.
  8. Komunikasi yang lebih baik dengan pelanggan tentang kemampuan produk dalam memenuhi spesifikasi pelanggan.
  9. Membuat organisasi lebih berorientasi pada data statistik dari pada hanya beberapa asumsi saja.

10.Perbaikan proses, sehingga kualitas produk menjadi lebih baik, biaya lebih rendah, dan produktivitas meningkat.

Terdapat beberapa manfaat lain pengendalian proses statistik. Manfaat-manfaat tersebut adalah sebagai berikut (Grig, 1998):

  1. Pengurangan pemborosan.
  2. Perbaikan pengendalian dalam proses.
  3. Peningkatan efisiensi.
  4. Peningkatan kesadaran karyawan.
  5. Peningkatan jaminan kualitas pelanggan.
  6. Perbaikan analisis dan monitoring proses.
  7. Meningkatkan pemahaman terhadap proses.
  8. Meningkatkan keterlibatan karyawan.
  9. Pengurangan keluhan pelanggan.
  10. Peningkatan pemberdayaan personil lini.
  11. Perbaikan komunikasi.
  12. Pengurangan waktu penyampaian jasa atau pelayanan.

Beberapa kesulitan yang dihadapi dalam pengenalan dan penerapan pengendalian proses statistik. Kesulitan tersebut antara lain disebabkan (Antony, 2000):

  1. Tidak adanya dukungan dan komitmen manajemen yang membantu pengenalan program pengendalian proses statistik.
  2. Tidak adanya pendidikan dan pelatihan yang dimaksudkan untuk memberikan pengertian yang jelas mengenai alat dan teknik pengendalian proses statistik yang dapat memberikan kompetensi bagi organisasi seperti histogram, diagram pareto, diagram sebab-akibat, dan sebagainya.
  3. Ketidak cukupan sistem pengukuran. Hal ini disebabkan sektor industri seringkali mengabaikan sistem pengukuran selama pengenalan program pengendalian proses statistik. Pengendalian proses statistik tergantung pada sistem pengukuran efektif, apabila sistem pengukuran tidak memenuhi, maka pengendalian proses statistik harus ditangguhkan penggunaannya.
  4. Kurangnya  pengetahuan mengenai apa yang dimonitor dan diukur. Pengukuran adalah elemen kunci dalam continuous improvement. Pengertian yang baik terhadap proses sangat penting untuk mengidentifikasi karakteristik yang sesuai dan penting bagi pelanggan.
  5. Kurangnya komunikasi antara para perencana, manajer, dan operator yang sangat penting bagi keberhasilan dalam penerapan pengendalian proses statistik.

Sumber: //ismimaulina.wordpress.com/2015/10/22/statistical-process-control-spc/